GridHype.ID — Menjelang pertandingan krusial melawan Real Madrid di Liga Champions, pelatih RB Leipzig, Martin Demichelis, membagikan refleksi mendalam tentang perjalanan hidupnya yang penuh liku. Pengalaman pahit, mulai dari kehilangan orang tua hingga perceraian, membentuk ketahanan mentalnya yang kini ia coba tularkan kepada para pemainnya.
Demichelis, yang bergabung dengan RB Leipzig pada Juni 2026 setelah meninggalkan RCD Mallorca, menghadapi tantangan berat setelah timnya mengalami kekalahan telak 1-6 dari Bayern Munich di Bundesliga. Kini, fokus beralih ke duel tandang melawan Real Madrid di Bernabeu pada Kamis (22/10/2026) dini hari WIB.
Dalam sebuah wawancara yang dikutip dari AS, Demichelis mengungkapkan bagaimana tragedi pribadi telah menempa kekuatannya. Ia kehilangan ibunya karena kanker pada usia 14 tahun, dan ayahnya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas pada tahun 2013. Peristiwa-peristiwa ini, menurutnya, menjadi fondasi mentalnya untuk menjadi pelatih.
“Berbagai kejadian itu membuat saya lebih kuat secara mental dan mempersiapkan diri untuk menjadi pelatih. Ketika menghadapi masa-masa sulit, seperti kekalahan beberapa hari lalu, saya bisa mengingat bahwa ada hal-hal yang jauh lebih buruk dalam hidup ini,” ujar Demichelis.
Ia menambahkan bahwa terkadang sulit bagi pemain muda untuk memahami perspektif ini. “Terkadang, sangat sulit menjelaskan hal tersebut kepada para pemain. Terutama kepada pemain yang masih lajang dan belum menjadi seorang ayah. Mereka perlu memahami bahwa ada banyak hal yang jauh lebih penting daripada sekadar kekalahan dalam pertandingan.”
Sepak bola, diakui Demichelis, selalu menjadi penopang hidupnya. “Sepakbola membantu saya terus melangkah. Dulu, ketika masih menjadi pemain, sepakbola membantu saya melewati masa-masa sulit. Sekarang, hal yang sama juga saya rasakan sebagai pelatih,” katanya.
Kehidupan pribadi Demichelis juga diwarnai perceraian dengan Evangelina Anderson pada tahun 2025, setelah 18 tahun bersama dan dikaruniai empat anak. Jarak dengan anak-anak menjadi pukulan berat, namun ia menemukan kekuatan dalam profesinya.
“Saya juga tidak malu untuk mengatakannya. Setahun lalu, saya berpisah dari keluarga yang telah bersama saya selama 18 tahun. Tentu, tidak mudah harus berjauhan dengan anak-anak saya. Namun, sepakbola memberi saya kehidupan, membuat saya merasa menjadi diri sendiri, serta memberi kesempatan kepada saya untuk menjelaskan dan mengajarkan sesuatu kepada orang lain,” ungkap mantan bek Timnas Argentina itu.
Pria berusia 44 tahun itu menekankan pentingnya menghadapi kesulitan dengan kepala dingin, mengacu pada pengalaman tragisnya. “Yang harus dilakukan adalah menghadapi situasi yang sangat sulit dengan kepala dingin. Seperti yang Anda katakan, saya memang pernah mengalami berbagai kejadian tragis dalam hidup. Pengalaman itu membuat saya menyadari bahwa ada hal-hal yang jauh lebih buruk daripada kekalahan. Tentu saja, kita semua ingin menang.”
Demichelis juga memiliki rekam jejak kekalahan di partai final bergengsi, termasuk final Piala Dunia 2014, final Copa America 2015 bersama Argentina, dan final Liga Champions bersama Bayern Munich. Pengalaman ini memberikannya perspektif unik tentang bagaimana mengelola kekalahan.
“Saya merasa punya pengalaman yang cukup untuk berbicara tentang kekalahan karena saya pernah kalah di tiga partai final. Saya selalu mengatakan bahwa ada berbagai cara untuk menghadapi kekalahan. Ada kekalahan yang tetap membuat kita bisa menerima hasilnya dengan tenang karena kita sudah memberikan segalanya,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa semua pengalaman tersebut telah membentuk mentalnya. “Semua pengalaman tersebut telah menempa mental saya hingga bisa berada di posisi sekarang. Saya rasa, pengalaman itu juga membantu saya menghadapi masa-masa sulit dengan tetap berpikir positif,” pungkas Demichelis.
