— JAKARTA – Tim Nasional Korea Selatan tengah dilanda isu perpecahan internal. Sejumlah pemain muda dikabarkan tidak senang dengan gaya kepemimpinan kapten tim, Son Heung-min, bahkan ada yang menyebutnya hanya ingin menjadi pusat perhatian.

Informasi mengenai keretakan di dalam skuad Taegeuk Warriors ini terungkap dalam sebuah pemeriksaan di National Assembly pada 21 Oktober lalu. Komite Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata menjadi pihak yang menyampaikan temuan tersebut.

Menurut laporan media-media lokal, para pemain yang lebih muda tidak menyukai Son Heung-min. Mereka bahkan tidak memanggil sang kapten dengan namanya, melainkan hanya menyebutnya dengan sebutan ‘nomor 7’. Para pemain tersebut adalah Kim Min-jae, Hwang Hee-chan, dan Hwang In-beom.

Situasi ini dilaporkan cukup serius, di mana ketiga pemain tersebut bahkan dikabarkan siap untuk pensiun dini dari timnas jika Son Heung-min terus menjadi bagian dari skuad. Mereka merasa kepemimpinan Son lebih mengutamakan dirinya sendiri ketimbang kepentingan tim.

Kepemimpinan Presiden Asosiasi Sepakbola Korea (KFA), Lee Yong-soo, juga turut dipertanyakan karena dinilai tidak mampu menyelesaikan konflik yang terjadi di dalam tim.

“Berbagai versi cerita terus bermunculan dan berkembang menjadi kontroversi yang tidak perlu,” ujar Lee Yong-soo, seperti dikutip oleh Chosun. “Meskipun saat ini kami memakai jasa pelatih sementara, kami berharap pelatih Moreno dapat mengoordinasikan hubungan di dalam skuad dan menyelesaikan berbagai masalah satu per satu.”

Pemeriksaan di National Assembly ini juga meninjau kembali serangkaian konflik yang telah melanda Timnas Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa-peristiwa tersebut mencakup ketegangan selama Piala Dunia 2022, perselisihan terbuka di mana Kim Min-jae memblokir Son di media sosial pada tahun 2023, pertikaian fisik yang ramai diberitakan antara Son dan Lee Kang-in selama Piala Asia 2024, serta aksi boikot wawancara terkait kualifikasi Piala Dunia 2026.

Para pengamat berharap Ksatria Taegeuk segera fokus untuk menyelesaikan konflik internal ini agar performa tim tidak terganggu, terutama menjelang persiapan Piala Asia 2027.