— Mantan kiper legendaris Manchester United, Peter Schmeichel, angkat bicara mengenai kritikan pedas yang dilontarkan oleh Lisandro Martinez kepada manajemen klub. Schmeichel mengaku tidak senang mendengar ada pemain yang berbicara di depan umum seperti itu, namun ia juga menilai bahwa apa yang disampaikan Martinez memiliki dasar kebenaran.

Perbincangan ini mencuat setelah momen wawancara Martinez dengan Schmeichel usai Manchester United kalah dari Atletico Madrid di Liga Champions. Dalam kesempatan tersebut, bek asal Argentina itu menyuarakan kekecewaannya terhadap manajemen, terutama Direktur Jason Wilcox, yang dinilainya kurang berinvestasi dalam pembangunan skuad.

Martinez mengekspresikan rasa frustrasinya melihat performa tim yang dinilai belum memuaskan sepanjang musim ini. Schmeichel, yang pernah menjadi bagian dari Setan Merah, menyatakan ketidaksukaannya jika ada rekan setim yang melontarkan kritik keras di hadapan publik.

“Saya tidak ingin ada rekan setim yang pernah berbicara seperti itu di depan umum. Kecuali jika itu Bryan Robson. Tidak, saya tidak mau. Saya benar-benar tidak suka hal seperti itu,” ujar Schmeichel dalam podcast The Overlap, seperti dilansir ESPN.

Ia menambahkan, dalam tim yang pernah ia bela, setiap pemain memegang tanggung jawab masing-masing. Schmeichel juga mengakui bahwa kehadiran manajer seperti Sir Alex Ferguson sangat efektif dalam mencegah pelanggaran aturan semacam itu.

“Di ruang ganti tempat saya berada, setiap orang bertanggung jawab. Jarang sekali ada yang melanggar aturan, dan tentu saja kami memiliki manajer (Sir Alex Ferguson) yang tidak akan membiarkan Anda melanggar aturan. Dia akan langsung bereaksi terhadap hal itu,” jelasnya.

Meskipun demikian, Schmeichel menegaskan bahwa ketidaksenangannya terhadap cara penyampaian kritik tidak berarti ia sepenuhnya tidak setuju dengan substansi yang diungkapkan Martinez.

“Bukan berarti saya sepenuhnya tidak setuju dengan apa yang dikatakan [Martínez]. Itu hal lain,” katanya.

Lebih lanjut, eks kiper tim nasional Denmark ini berpendapat bahwa pandangan Martinez sejalan dengan realitas pembangunan tim di klub-klub top Eropa. Ia membandingkan Manchester United dengan rival seperti Arsenal, Liverpool, dan Manchester City.

“Tanpa membahas terlalu detail apa yang dikatakan Martínez, beberapa hal yang dia sampaikan tidak jauh dari kenyataan, kok,” lanjut Schmeichel.

Schmeichel mencontohkan strategi pembangunan tim di klub-klub tersebut. “Lihatlah tim-tim yang menjanjikan: Manchester City beberapa waktu lalu, Arsenal dalam enam tahun terakhir, Liverpool di bawah Jürgen Klopp, apa yang mereka lakukan sehingga tiba-tiba mengubah dinamika dan nasib mereka? Mereka memulainya dari lini belakang,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, klub-klub tersebut biasanya memulai dengan mendatangkan pemain kunci di lini pertahanan dan tengah sebelum merekrut pemain kreatif. “Mereka mendatangkan kiper, empat pemain belakang, dan seorang gelandang tengah. Mereka membangun fondasi itu, membuatnya kokoh, dan baru kemudian mulai mendatangkan para pemain kreatif. Mereka semua telah melakukannya. Membangun dari lini belakang. Kami justru melakukan sebaliknya, membangun dari lini depan,” pungkas Schmeichel.