— Kuala Lumpur – Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) secara mengejutkan masuk dalam daftar nominasi penghargaan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Pencalonan ini menimbulkan pertanyaan dan sorotan tajam, terutama mengingat skandal naturalisasi pemain yang baru-baru ini menjerat federasi tersebut.

AFC telah merilis daftar nominasi untuk penghargaan yang akan diumumkan di Bangkok pada 19 November mendatang. Penghargaan tersebut mencakup berbagai kategori, mulai dari asosiasi terbaik, pemain terbaik, hingga pelatih terbaik.

Dalam kategori asosiasi terbaik, AFC membagi penghargaan menjadi empat tingkatan: Platinum, Diamond, Gold, dan Ruby. FAM masuk dalam nominasi kategori Gold dan akan bersaing dengan Asosiasi Sepak Bola Hong Kong (HKFA) dan Federasi Sepak Bola India (AIFF).

Pencalonan FAM ini menuai banyak keterkejutan, mengingat federasi tersebut belum lama ini tersandung skandal memalukan terkait naturalisasi tujuh pemain yang berujung pada hukuman dari FIFA.

Pada September tahun lalu, terungkap bahwa tujuh pemain naturalisasi Malaysia, yaitu Gabriel Felipe Arrocha, Facundo Tomas Garces, Rodrigo Julian Holgado, Imanol Javier Machuca, Joao Vitor Brandao Figueiredo, Jon Irazabal Iraurgui, dan Hector Alejandro Hevel Serrano, tidak memiliki darah Malaysia seperti yang diklaim. Investigasi FIFA menunjukkan mereka tidak memiliki kakek atau nenek dari Malaysia.

FIFA mengungkap adanya pemalsuan dokumen dalam proses naturalisasi ketujuh pemain tersebut. Pemerintah dan federasi Malaysia mendapat sorotan tajam karena dianggap lalai dalam proses tersebut.

Malaysia sempat mengajukan banding hingga ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), namun upaya tersebut gagal. Akibatnya, Malaysia dijatuhi denda miliaran rupiah dan para pemain yang bersangkutan dibekukan aktivitasnya selama setahun.

Selain hukuman FIFA, AFC juga memberikan sanksi kepada Malaysia dengan menganulir kemenangan mereka di kualifikasi Piala Asia 2027 yang diraih dengan memainkan pemain naturalisasi ilegal tersebut. Hal ini membuat Harimau Malaya gagal lolos ke ajang Piala Asia tahun depan.

Kasus ini kembali mencuat dan menjadi perbincangan hangat seiring dengan masuknya FAM dalam nominasi asosiasi terbaik di Asia. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana hal ini bisa terjadi.

Sejumlah pihak, termasuk jurnalis dan netizen, menyoroti kemungkinan adanya faktor internal dalam AFC. Salah satunya adalah Sekjen AFC yang berasal dari Malaysia, Datuk John Paul Windsor, serta lokasi kantor AFC yang berada di Kuala Lumpur.

Jurnalis ESPN India, Aaditya Narayan, menulis di platform X, “Jelas pencalonan AIFF untuk penghargaan ini hanyalah lelucon, tetapi pencalonan Malaysia bahkan lebih parah lagi, mengingat berbagai pelanggaran yang telah dilakukan federasi tersebut selama sekitar satu tahun terakhir.”

Jurnalis investigasi olahraga Prancis, Romain Molina, juga mengungkapkan kekecewaannya. “AFC ini bercanda: bagaimana mungkin Asosiasi Sepak Bola Malaysia bisa masuk dalam nominasi Asosiasi Terbaik Tahun Ini setelah pada tahun 2025 terbukti bersalah memalsukan kewarganegaraan tujuh pemain? Sepertinya korupsi dan pelanggaran justru makin didorong,” cuitnya.

Seorang netizen lainnya mengecam, “Inilah persis cara kerja AFC, sebuah sarang mafia di dunia sepak bola! Sepak bola Asia tidak akan pernah adil atau transparan selama orang-orang yang sama terus memegang kendali. Benar-benar sialan! 🤬”

Sementara itu, Indonesia juga masuk dalam nominasi penghargaan AFC, yaitu untuk kategori pengembangan sepak bola akar rumput dalam kategori Bronze (perunggu). Indonesia bersaing dengan Kamboja dan Myanmar dalam kategori tersebut.